Minggu, 31 Juli 2011

Batuan


JENIS SUMBER DAYA GEOLOGI BATUAN
MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Geologi Lingkungan dan
Sumber Daya





Oleh:

ITA RISTAWATI                                        092170125

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2010


 

ABSTRAK
Untuk memberi batasan tentang apa yang disebut geologi, tentu tidak terlepas dari apa yang menjadi objek kajiannya. Istilah geologi dalam bahasa Inggris yaitu “Geology”, terdiri dari 2 kata, yaitu Geo = bumi dan Logos = pengetahuan. Atas dasar itu “Geology” dapat diartikan sebagai study tentang bumi. Termasuk didalamnya adalah penyelidikan tentang batuan yang membentuk kerak bumi dan bagaimana persebarannya diatas serta di dalam bumi. Mempelajari geologi dalam kaitannya dalam geografi tidak semata-mata mempelajari geologi sebagai ilmu murni. Geologi merupakan ilmu terpadu yang tidak terlepas hubungannya dengan ilmu-ilmu lain yang biasanya disebut cabang ilmu geologi. Dalam cabang ilmu geologi ini ada beberapa ilmu yang diantaranya yaitu cabang ilmu petrologi yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari klasifikasi batuan serta berbagai cara terjadinya batuan, dan cabang ilmu pakontologi yaitu ilmu yang mempelajari pembatuan dari sisa-sisa binatang purba atau tumbuh-tumbuhan purba/fosil. Batuan terdiri dari tiga jenis yang diantaranya yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batuan malihan/metamorf. Tanah yang berasal dari batuan yang benyak mengandung mineral feldspar, kaolin, dan kuarsa akan menjadikan warna tanah putih, sedangkan kandungan mineral besi, hematit, magnetit dan limonit akan menjadikan warna tanah merah.

 

BAB I
PENDAHULUAN
Batuan adalah kumpulan dari satu atau lebih mineral. Kejadian dan sifat dari batuan ditentukan oleh kandungan mineralnya dan hubungan atau keadaan mineralnya satu sama lain (tekstur). Batuan Sedimen (sedimentary rock), terbentuk dari hasil pengumpulan dan kompaksi dari: Fragmen-fragmen dari batuan sebelumnya yang telah lepas dan mengalami erosi (pengikisan dan transportasi). Bahan-bahan organik, kulit binatang atau sisa tanaman. Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang telah mengalami perubahan dari batuan induknya, akibat pengaruh temperatur, tekanan, atau kandungan dan larutan yang aktif secara kimiawi. Yang dimaksud dengan pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan perubahan sifat (fisis dan kimiawi) batuan dipermukaan bumi oleh pengaruh cuaca. Ada 4 faktor yang mempengaruhi proses pelapukan batuan, yaitu: Pengaruh struktur batuan terhadap pelapukan Yang dimaksud dengan struktur batuan disini adalah segala sifat fisis dan kimiawi batuan yang menyebabkan batuan yang satu berbeda dengan batuan lain. Pengaruh iklim terhadap pelapukan Faktor ini ada yang mendorong untuk mempercepat proses pelapukan dan ada pula yang kurang mendorong. Pada umumnya iklim yang panas dan lembab, lebih cepat melapukan batuan dari pada iklim lainnya. Pengaruh topografi terhadap pelapukan Pengaruh topografi terhadap pelapukan kebanyakan dalam bentuk tidak langsung. Makin curam kemiringan suatu lereng makin mudah hasil pelapukan mengalami pengangkutan. Pengaruh tumbuh-tumbuhan terhadap pelapukan batuan, Tumbuh-tumbuhan mempengaruhi pelapukan batuan dengan 2 cara: Secara mekanis, karena akar tumbuh-tumbuhan dapat menembus batuan. Pertambahan panjang dan besar akar tumbuh-tumbuhan dapat memecahkan batuan yang ditembusnya. Dan Secara kimia, prosesnya yaitu karena sisa-sisa tumbuh-tumbuhan yang telah membusuk dapat mengurangi asam arang dan asam humus yang merupakan faktor pelapuk yang kuat.

  
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Batuan
Batuan adalah kumpulan dari satu atau lebih mineral. Kejadian dan sifat dari batuan ditentukan oleh kandungan mineralnya dan hubungan atau keadaan mineralnya satu sama lain (tekstur). Macam-macam batuan berdasarkan pada cara terjadinya (klasifikasi genetis), tekstur dan komposisi mineral, batuan dapat digolongkan menjadi 3 jenis utama, yaitu:
1.      Batuan Beku (Igneous Rock), terbentuk dari magma yang asalnya dari dalam bumi yang naik menuju permukaan dan membeku sebagai batuan yang padat, pada titik bekunya. Berdasarkan letaknya, batuan beku dapat dibagi menjadi:
a.    Batuan beku dalam (plutonik)
b.    Batuan beku korok/gang (porfiri)
c.    Batuan beku luar (efusi)
2.      Batuan Sedimen (sedimentary rock), terbentuk dari hasil pengumpulan dan kompaksi dari:
a.    Fragmen-fragmen dari batuan sebelumnya yang telah lepas dan mengalami erosi (pengikisan dan transportasi).
b.    Bahan-bahan organik, kulit binatang atau sisa tanaman.
c.    Bahan-bahan terlarut dalam air permukaan (sungar, laut, dll) atau air tanah yang terendapkan pada kondisi yang jenuh).
                                 I.          Macam-macam batuan sedimen berdasarkan :
a.    Tenaga alam yang menyangkutnya
-       Sedimen Aquatis, oleh air
-       Sedimen Aeris/Aeolis, oleh angin
-       Sedimen Glacier, oleh air
-       Sedimen Marin, oleh air laut
b.   Tempat sedimen diendapkan
-       Sedimen teristris, di darat
-       Sedimen Fluvial, di sungai
-       Sedimen Limnis, dirawa/didanau
-       Sedimen Marin, di laut
-       Sedimen Galcial, di daerah es
c.    Proses pengendapan
-       Secara klasik/mekanik, merupakan kumpulan Fragmen batuan yang diikat oleh semennya atau berada dalam suatu masa dasar.
-       Secara kimiawi, ialah batuan yang langsung mengendap dari larutan yang mengandung berbagai unsur.
-       Secara organik, ialah batuan yang diendapkan langsung dari bahan asal organik kulit binatang atau sisa tanaman.
                              II.          Tekstur batuan sedimen
Tekstur menunjukan sifat halus atau kasarnya butiran-butiran batuan. Skala pembatasan yang dipakai adalah “skala wenworth”.
                           III.          Struktur sedimen
Struktur sedimen terbentuk pada saat pembentukan batuan (pada saat sedimentasi). Beberapa struktur sedimen itu adalah:
a.    Perlapisan, ditunjukan oleh perbedaan besar butir atau warna batuan penyusunnya. Pelapisannya bisa sangat tipis ataupun tebal.
b.   Perlapisan bersusun (graded bedding), ditunjukan dengan adanya susunan perlapisan dari butir yang kasar sampai yang halus pada satu satuan perlapisan.
c.    Perlapisan berselang ( cross bedding), ditunjukan adanya bentuk lapisan yang terpotong pada bagian atasnya oleh lapisan berikutnya yang berlainan sudut, biasanya terdapat pada batu pasir.
d.   Gelembur gelombang (current ripple), bentuk ini seperti berkerut dalam satu lapisan.
                           IV.          Contoh batuan sedimen
a.    Breksi (Breccia)
b.   Konglomerat (Conglomerate)
c.    Batu pasir (Sandstone)
d.   Batu lanau (Siltstone)
e.    Batu lempung ( Claystone)
f.    Serpih (Shale)
g.   Napal (Marl)
h.   Batu gamping (Limestone)
i.     Gypsum
j.     Batubara


3.      Batuan Metamorf
Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang telah mengalami perubahan dari batuan induknya, akibat pengaruh temperatur, tekanan, atau kandungan dan larutan yang aktif secara kimiawi. Berdasarkan proses dan lingkungan terbentuknya metemorfisme dapat dibedakan:
a.       Metamorfisme Thermal (kontak), terjadi karena aktivitas intrusi magma, proses yang berperan adalah panas larutan aktif.
b.      Metamorfis dinamis, terjadi di daerah pergeseran/pergerakan yang dangkal (misalnya zona patahan), dimana tekanan lebih berperan dari pada panas yang timbul. Sering kali terbentuk bahan yang sifatnya hancuran, kadang-kadang terjadi rekristalisasi.
c.       Metamorfisme regional, proses yang berperan adalah kenaikan tekanan dan temperatur. Proses ini terjadi secara regional, berhubungan dengan lingkungan tektonik, misalnya pada jalur-jalur “pembentukan gunung”, “zona tunjam” dsb.
Beberapa contoh batuan malihan, diantaranya:
a.       Serpentinit
Batuan yang dibentuk oleh kelompok mineral serpentin sebagai hasil lapukan batuan bekuan basa atau batuan malihan. Biasanya berwarna hijau atau kekuning-kuningan dapat digunakan untuk batu hias.
b.      Batu sabak
Terdiri dari mineral lempung yang mengalami perubahan karena pengaruh tekanan yang tinggi. Batu ini dapat digunakan untuk bahan bangunan.
c.       Filit
Jenis batu sabak yang lebih tipis pelapisannya dan secara fisik mudah lapuk. Selain lempung didapati mineral lainnya seperti turmalin dan garnet.
d.      Marmer/Pualm
Krsitalisasi kembali batu gamping sebagai akibat pengaruh suhu tinggi yang lebih dominan. Batuannya padat, kompak dan massive. Jenis yang tembus cahaya disebut oniks dapat dimanfaatkan sebagai batu hias.
e.       Sekis
Batuan hasil metamorfosa regional yang mengandung mineral mika, muscovite, talk, feldspar, augit, hornblende, epidot, garnet. Batuan ini padat dan tidak tembus air.
f.       Kuarsit
Terjadi karena pengaruh suhu tinggi yang dominan. Terdiri dari kwarsa yang terbentuk dari batuan asal batu pasir kwarsa.
g.      Genes
Batuan ini terdiri dari mineral feldspar dan kwarsa dan merupakan hasil metemorfosa regional. Batuannya sangat padat dan tidak tembus air serta dapat diamplas mengkilap seperti marmer untuk batu hias.

B.     Pelapukan Batuan
Yang dimaksud dengan pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan perubahan sifat (fisis dan kimiawi) batuan dipermukaan bumi oleh pengaruh cuaca.
Ada 4 faktor yang mempengaruhi proses pelapukan batuan, yaitu:
1.      Pengaruh struktur batuan terhadap pelapukan
Yang dimaksud dengan struktur batuan disini adalah segala sifat fisis dan kimiawi batuan yang menyebabkan batuan yang satu berbeda dengan batuan lain. Sifat fisis misalnya kekerasannya, warnanya, belahannya, dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud dengan sifat kimiawi misalnya susunan unsur-unsur atau mineral-mineral pembentuknya. Batu kapur mempunyai sifat fisis dan susunan kimiawi yang berbeda dengan batuan andesit atau dengan basalt. Batuan-batuan tadi mempunyai daya tahan yang berlainan terhadap pengaruh cuaca, jadi berbeda daya tahannya terhadap pelapukan. Batuan yang pejal atau kompak mempunyai daya tahan terhadap pelapukan yang berbeda dengan batuan yang berpori (poreus).



2.      Pengaruh iklim terhadap pelapukan
Faktor ini ada yang mendorong untuk mempercepat proses pelapukan dan ada pula yang kurang mendorong. Pada umumnya iklim yang panas dan lembab, lebih cepat melapukan batuan dari pada iklim lainnya. Selain dari pengaruh terhadap tingkat kecepatan proses pelapukan batuan, iklimpun berpengaruh terhadap macam pelapukan yang berlangsung. Agaknya pelapukan kimia lebih penting di daerah humid dari pada di daerah arid, sedangkan pelapukan fisis di daerah arid lebih penting dari pada di daerah humid. Namun hal ini tidak berarti bahwa jenis pelapukan lainya tidak terjadi. Jadi jenis batuan yang sama dengan sifat-sifat fisis dan kimia yang sama akan mengalami pengaruh iklim yang berbeda.
3.      Pengaruh topografi terhadap pelapukan
Pengaruh topografi terhadap pelapukan kebanyakan dalam bentuk tidak langsung. Makin curam kemiringan suatu lereng makin mudah hasil pelapukan mengalami pengangkutan. Akibatnya di tempat itu hanya akan terdapat lapisan hasil pelapukan yang tipis saja atau sama sekali tidak ada. Oleh karena batuan induk tidak tertutup oleh lapisan hasil pelapukan, maka pengaruh cuaca tidak terhambat dan proses pelapukan pun berlangsung terus. Lain halnya yang terjadi pada lereng yang landai. Disini hasil pelapukan tetap tinggal pada tempatnya menutupi batuan induk dengan lapisan yang makin lama makin tebal.
Dengan demikian pengaruh cuaca terhadap batuan induk semakin kecil pula. Ini berarti mengurangi kecepatan pelapukan batuan di tempat itu. Disamping pengaruhnya terhadap pengangkutan hasil pelapukan, maka topografi juga mempengarui suhu, jenis/jumlah curah hujan, serta jenis jumlah tumbuh-tumbuhan. Semuanya itu secara tidak langsung mempengaruhi macam dan jenis pelapukan yang terjadi di tempat itu.
Semakin tinggi letak suatu tempat di permukaan bumi, maka suhunya semakin rendah. Demikian pula jumlah curah hujan di lereng dan puncak pegunungan yang menghadap ke arah datangnya angin, relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan curah hujan pada lembah-lembah.


4.      Pengaruh tumbuh-tumbuhan terhadap pelapukan batuan
Tumbuh-tumbuhan mempengaruhi pelapukan batuan dengan 2 cara.
a.       Secara mekanis, karena akar tumbuh-tumbuhan dapat menembus batuan. Pertambahan panjang dan besar akar tumbuh-tumbuhan dapat memecahkan batuan yang ditembusnya.
b.      Secara kimia, prosesnya yaitu karena sisa-sisa tumbuh-tumbuhan yang telah membusuk dapat mengurangi asam arang dan asam humus yang merupakan faktor pelapuk yang kuat.
Oleh karena itu jenis dan banyaknya tumbuh-tumbuhan di suatu daerah sangat besar pengaruhnya terhadap proses pelapukan. Sebenarnya antara tumbuh-tumbuhan dan hasil pelapukan terdapat hubungan timbal balik karena tumbuh-tumbuhan hidup pada hasil pelapukan batuan yang telah menjadi tanah, sebaliknya proses pelapukan dapat dipercepat oleh adanya tumbuh-tumbuhan.

C.    Jenis Pelapukan Batuan
Pelapukan batuan dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu: pelapukan fisis atau kimia, pelpukan kimia. Bahkan ada pula yang menggolongkan pelapukan batuan ini menjadi tiga golongan yaitu dengan menambahkan pelapukan biologis sebagai macam pelapukan yang ketiga. Tetapi sebenarnya pelapukan biologis itu tidak lain dari pelapukan fisis dan pelapukan kimia. 
1.      Pelapukan fisis
Pelapukan fisis adalah proses pelapukan batuan yang menyebabkan sesuatu bongkah batuan mengalami penghancuran menjadi butir-butir atau pecahan-pecahan yang lebih kecil tanpa perubahan sifat. Pelapukan fisis disebut juga pelapukan mekanis. Ada 5 faktor yang memegang peranan penting dalam pelapukan fisis, yaitu
a.       Pemuaian batuan akibat berkurangnya beban.
Proses ini terjadi pada batuan yang semula tertimbun di dalam lapisan kulit bumi oleh lapisan batuan lain. Kemudian batuan yang menimbuninya sedikit demi sedikit tererosi, sehingga ketebalannya berkurang, yang berarti tekanan terhadap lapisan batuan yang ada di bawahnya semakin berkurang. Oleh peristiwa itu batuan tadi mengalami pemuaian dan terjadilah retakan-retakan yang makin lama makin bertambah lebar, sehingga memungkinkan batuan tersebut terpecah-pecah. Salah satu contohnya adalah yang terjadi pada batuan granit yaitu sejenis batuan beku dalam yang mempunyai struktur berlapis-lapis atau retak-retak setelah tersingkap di permukaan bumi.
b.      Pembentukan kristal-kristal dalam celah-celah atau lapisan-lapisan batuan.
Proses ini terjadi di daerah beriklim dingin. Di daerah ini suhu udara pada siang hari panas, sehingga yang ada pada celah-celah batuan dalam bentuk cair. Pada malam hari suhu turun sampai beberapa derajat di bawah nol. Penurunan suhu yang demikian maka air tadi membeku menjadi kristal es.
c.       Perubahan suhu.
Perubahan suhu selain dari erat kaitannya dengan pembentukan kristal-kristal es seperti telah dikemukakan berpengaruh pula terhadap pelapukan batuan dalam bentuk lain. Perubahan suhu dalam hal ini tidak perlu sampai mencapai titik beku. Batuan terdiri dari kristal-kristal yang berbeda koefisien pemuaiannya (besarnya pemuaian setiap ditingkatkan panasnya 10C). oleh karena itu kalua suhunya naik maka pemuaian kristal-kristal pembentuk batuan tidak sama. Demikian pula kalau suhunya turun maka pengkerutannya tidak sama. Oleh karena sering terjadi perubahan suhu hubungan antara kristal-kristal pada bagian luar batuan menjadi longgar, akhirnya retak-retak dan mengelupas. Pengelupasan ini disebut exfoliasi massa. Apabila kristal-kristal pembentuk batuan itu lepas-lepas menjadi butir-butir yang terpisah-pisah maka prosesnya disebut exfoliasi peristiwa itu tidak terjadi karena perubahan suhu tidak mempengaruhinya.
d.      Kegiatan organisme
Pengaruh organisme terhadap pelapukan fisis tidak besar. Yang dimaksud dengan organisme disini adalah tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Pengaruh akar, tumbuh-tumbuhan terhadap pelapukan batuan telah diuraikan pada bagian yang lalu. Disini hanya akan ditegaskan bahwa pengaruh tumbuh-tumbuhan tidak terbatas hanya pada tumbuh-tumbuhan berakar besar dan panjang, karena akar lumut pun mampu melapukan batuan. Misalnya lumut yang tumbuh di atas batuan yang terletak di tempat lembab, akan menyebabkan terjadinya exfoliasi masa pada bagian luar batuan tersebut.
Pengaruh hewan, yaitu semut, anjing tanah, dan binatang-binatang lain yang hidup dalam lapisan tanah sering mengangkut butir-butir batuan dari dalam tanah ke permukaan. Walaupun pengaruhnya sangat kecil namun hal ini penting untuk diketahui. Selain dari itu tidak kurang pentingnya pengaruh manusia terhadap pelapukan ini, baik yang langsung maupun tidak langsung. Namun perbuatan manusia sering dipisahkan dari pengaruh terhadap proses pelapukan ini karena manusia merupakan makhluk budaya yang memiliki kemampuan tersendiri.
e.       Penarikan oleh koloid-koloid tanah.
Koloid tanah ialah bahan mineral dan bahan organisme yang sangat halus, sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi persatuan berat. Koloid berasal dari kata Yunani yang berarti seperti lem. Yang termasuk ke dalam koloid tanah adalah liat (koloid anorganik) dan humus (koloid organik). Karena kemampuannya untuk manarik butir-butir batuan lain, maka apabila koloid ini berdampingan dengan batuan induk maka bagian luar batuan itu akan tertarik oleh koloid-koloid tanah menjadi bagian-bagian kecil sehingga terlepas dari kesatuannya. Partikel-partikel koloid yang sangat halus disebut micell (micro cel) umumnya bermuatan listrik negatif. Apabila bersentuhan dengan ion-ion bermuatan listrik negatif (kation), maka kation tersebut akan tertarik. Dengan proses demikian maka bagian luar dari batuan induk akan terceraiberai menjadi butir-butir kecil. Sifat penting dari pelapukan fisis ialah bahwa dengan pelapukan ini tidak mengubah susunan kimiawi batuan, karena hanya terpecah saja.

2.      Pelapukan kimia
Pelapukan ini mengubah susunan zat yang terdapat pada mineral-mineral pembentuk batuan yang lapuk. Nampaknya pelapukan macam ini memegang peranan yang lebih penting bila dibandingkan dengan pelapukan fisis. Dalam prosesnya air merupakan faktor utama sebagai zat pelarut.
Ada 5 macam proses yang termasuk ke dalam pelapukan kimia, yaitu:
a.       Hidrasi
Hidrasi berarti adsorpsi air, yaitu penarikan air oleh sesuatu zat tetapi tidak terus masuk ke dalam zat itu melainkan hanya tertangkap di permukaan saja. Jadi berbeda dengan absorpsi yang meresapkan zat cair kedalam seluruh zat yang menangkapnya.   
b.      Hidrolisa
Hidrolisa adalah dissosiasi (penguraian) air atas ion-ion H lepas yang positif dan ion-ion OH-. Ion-ion H bersama dengan unsur K, Na, C, Mg mengadakan persenyawaan basa. Basa-basa ini mudah didissosiasikan sehingga mudah terjadi reaksi dengan zat lain yang mengakibatkan K, Na, Ca, Mg ini berubah menjadi garam-garaman yang mudah larut.
c.       Oksidasi
Pengaruh oksidasi tampak jelas pada batuan yang mengandung besi. Perubahan warna coklat pada pinggiran batuan induk yang terdapat pada lapisan tanah sebagai akibat oksidasi dapat mudah di amati.
d.      Karbonasi
Dalam proses karbonisasi, gas asam arang (C02) bekerja sebagai faktor pelapuk yang terpenting. Air yang mengadung asam arang mempunyai daya melapukan yang kuat sekali. Gas asam arang dalam arti itu diperoleh dari udara atau dari sisa tumbuh-tumbuhan setelah mengalami proses humifikasi. Batuan yang paling mudah dilapukan oleh proses karbonasi adalah batu kapur.
e.       Pelarutan biasa
Proses pelapukan ini termasuk proses kimia pula. Garam batu mudah larut dalam air. Batu kapur juga dapat larut dalam air, lebih-lebih bila air itu mengandung CO2.

D.    Peranan Pelapukan
Dilihat dari segi morfologi pelapukan berperan dalam hal-hal:
1.      Sebagai suatu proses dalam pembentukan tanah, yang lebih jauh membawa perubahan-perubahan terhadap bentuk permukaan bumi.
2.      Sebagai titik tolak untuk terjadinya erosi dan masswasting, serta sedimentasi. Semua proses itu menghasilkan bentuk-bentukan yang khas.
3.      Sebagai salah satu faktor dalam perendahan umum permukaan bumi. Hal ini jelas sekali dalam pelapukan serta perendahan daerah yang terdiri dari batu kapur, dolomit atau gips. Hasil pelapukan terutama sekali pelarutan, langsung diangkut oleh zat pelarutnya sehingga secara berangsur-angsur daerah itu diperendah.
Dalam proses pembentukan dan perubahan tanah ada 5 faktor yang memegang peranan penting, yaitu:
a.       Iklim, terutama suhu dan jumlah curah hujan.
b.      Topografi yang mempengaruhi pengaliran air.
c.       Soil biota, yaitu makhluk hidup dalam tanah dan tumbuh-tumbuhan diatasnya.
d.      Batuan induk, yaitu susunan kimia dan sifat-sifat fisiknya.
e.       Waktu, yaitu yang menentukan lama atau tidaknya proses pembentukan dan perubahan itu.
Apabila dilihat dari segi tempat batuan asalnya ada tanah yang dilapukandari batuan induk setempat (residual soil) dan tanah yang dihasilkan dari batuan di tempat lain yang mengalami pengangkutan (transpoted soil). Tanah yang berasal dari batuan induk setempat dapat menghambat proses pelapukan batuan induk itu pada waktu berikutnya.
Dalam ilmu tanah horison ini di bagi-bagi pula menjadi horison O1 dan O2, horison A1, A2, A3, serta horison B1, B2, B3. Dalam geomorfologi, horison ini hanya dapat dilihat dari sudut derajat pelapukannya. Horison O terutama terdapat pada tanah-tanah hutan yang belum terganggu. Horison ini merupakan horison organik yang terbentuk di atas lapisan tanah mineral. Horison A merupakan horison permukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan-bahan mineral. Horison ini disebut horison eluviasi yaitu horison yang mengalami pencucian. Horison ini telah benar-benar merupakan lapisan tanah sebagai hasil pelapukan batuan yang telah sempurna. Apabila pada horison ini terdapat batuan-batuan yang masih keras hal itu jangan diartikan sisa pelapukan, melainkan batuan yang datang kemudian setelah lapisan tanah pada umumnya terbentuk. Misalnya batuan beku hasil letusan gunung api.
 
BAB III
KESIMPULAN
A.    Simpulan
Batuan adalah kumpulan dari satu atau lebih mineral. Kejadian dan sifat dari batuan ditentukan oleh kandungan mineralnya dan hubungan atau keadaan mineralnya satu sama lain (tekstur). pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan perubahan sifat (fisis dan kimiawi) batuan dipermukaan bumi oleh pengaruh cuaca. Ada 4 faktor yang mempengaruhi proses pelapukan batuan, yaitu: Pengaruh tumbuh-tumbuhan terhadap pelapukan batuan, Pengaruh iklim terhadap pelapukan, Pengaruh topografi terhadap pelapukan, Pengaruh struktur batuan terhadap pelapukan

B.     Saran
Seiring dengan selesainya makalah ini maka penulis memberikan saran pada pembaca umumnya, sangat penting untuk kita pahami lebih dalam tentang beberapa jenis sumber daya geologi terutama mengenai jenis batuan yang ada di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Verstappen N. Th. Geomorfologi. Bandung: Dep. P&K Jawa – Pendidikan Umum Balai Pendidikan guru. 
Lange, O. Dkk. 1991. Geologi Umum. Jakarta: Media Pratama.

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar